Artikel

Diskusi Sastra Himasasi dan Peluncuran Buku Onrust Karya S. Arimba

Rabu (15/4/2016) Himpunan Mahasiswa Sastra Indonesia (Himasasi) Universitas Jenderal Soedirman, menggelar Diskusi Sastra dengan tema Sibernetika Sastra dan Peluncuran Buku Onrust karya S.Arimba. Acara tersebut merupakan program kerja divisi Pembinaan, Pengembangan Bahasa dan Sastra Indonesia. Ada lebih dari 60 mahasiswa yang hadir dan sebagian besar merupakan Mahasiswa Sastra Indonesia, FIB Unsoed. Acara tersebut dibuka oleh Imam suhardi, S.S. M.Hum selaku Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Budaya. Diskusi Sastra dan Peluncuran buku tersebut berlangsung pukul 13.00 hingga 16.30 WIB di ruang B203 Fakultas Ilmu Budaya. S.Arimba merupakan salah satu sastrawan asal Yogyakarta yang memanfaatkan kemajuan teknologi sebagai medianya. Sibernetika sastra merupakan fenomena baru dalam kasusastraan Indonesia, layaknya implikasi dari digitalisasi informasi. Ada pergeseran pola pikir serta media yang digunakan oleh sastrawan saat ini. Jika dulu orang kalau ingin eksis khususnya sastrawan loh ya, dilihat dari eksistensi karya-karyanya pernah dimuat di media apa enggak. Kalau pernah, media mana dan seberapa sering tentunya. Sastrawan yang karyanya pernah dimuat di Kompas, Tempo, atau media cetak yang mempunyai nama besar, tentunya akan lebih cepat dikenal orang. Hal ini berarti eksistensinya sebagai sastrawan akan diakui ungkap S.Arimba. Pada era digital seperti sekarang, kebutuhan manusia akan eksistensinya sangat mungkin tertampung di media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, Blog dan lain sebagainya. Hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa semua orang mampu menjadi seorang satrawan. Fenomena ini, tentunya berbeda pada zaman sebelum teknologi berkembang pesat seperti sekarang. Zaman dulu sastrawan hanya dilihat dari bagaimana karyanya dan siapa yang mengeritisinya. Inilah yang kemudian menjadikan karya sastra yang masuk dalam periodisasi sastra tetap eksis dan menjadi acuan para akademisi hingga saat ini. S.Arimba menambahkan Menjadi sastrawan cyber itu tidak selalu berkonotasi negatif. Mentang-mentang tidak lewat kurator atau redaksi, kita seenak jidat menilai bahwa karya sastra tersebut jelek mutunya. Tidak ada jaminan sastra yang ditulis di atas kertas wangi lebih berkualitas daripada karya sastra yang ditulis di dinding toilet tambah S.Arimba. Selain mengisi Diskusi Sastra, S.Arimba juga mengenalkan kumpulan puisi karyanya dalam Buku Onrust. Beliau mengaku dalam menulis buku tersebut memerlukan waktu sekitar tiga tahun untuk benar-benar mempublikasikannya. Puisi saya itu, cocoknya dibaca sambil tiduran. Tidak enak jika dibaca dengan nada-nada tinggi dan penuh semangat seperti puisi W.S Rendra. Ujar S.Arimba kemarin. Dalam diskusi sastra tersebut Muh.Abdul Aziz Mahasiswa Sastra Indonesia 2014 yang memimpin jalannya diskusi membuka tiga sesi tanya jawab dengan masing-masing tiga penanya. Perserta terlihat sangat antusias, hal ini terbukti dari bebrapa pertanyaan yang mereka ajukan. Salah satunya yaitu pertanyaan tentang “Keindahan (kebermutuan) karya sastra kok beda-beda antara akademisi, sastrawan dan pembaca umum. Apa yang menyebabkan mereka mempunyai standar yang berbeda-beda? tanya Ana Mahasiswa Sastra Indonesia 2013. Menanggapi pertanyaan dari mahasiswa, S. Arimba berpendapat bahwa setiap orang punya standarnya sendiri, ini terkait erat dengan pengalaman setiap orang. Tentu orang yang sudah banyak membaca buku atau puisi, memiliki penilaian yang lebih dalam dibanding dengan orang yang baru pertama baca lalu melakukan interpretasi. Bahwa soal mutu atau keindahan itu persoalan yang subjektif. Memang ada standar baku yang bisa digunakan untuk mengukur, tetapi pasti semua orang mempunyai standar keindahannya sendiri dan inilah yang kemudian menimbulkan perbedaan Acara Diskusi Sastra dan Peluncuran Buku Onrust tersebut berjalan sangat menarik dengan adanya hiburan seperti pembacaan puisi dari peserta, puisi humor dan musikalisasi puisi karya S.Arimba yang dibawakan oleh panitia. Pada acara terakhir Sekretaris Jurusan Sastra Indonesia, Ashari Hidayat, S.S. M.Hum memberikan plakat kepada S.Arimba sebagai bentuk kenang-kenangan. Panitia juga membagikan doorprize Buku Onrust untuk tiga orang peserta yang beruntung dengan sistem undian yang diambil sendiri oleh S.Aimba. Selain itu, panitia juga memberikan Buku Onrust kepada peserta dengan kategori penanya pertama dan terakhir. Acara tersebut ditutup dengan pembacaan doa dan sesi foto bersama.