Artikel

Himasasi Gelar Diskusi "Eksistensi Diri melalui Penulisan Kreatif Sastra"

Himpunan Mahasiswa Sastra Indonesia (Himasasi), Universitas Jenderal Soedirman, menggelar Diskusi Sastra dengan tema "Eksistensi Diri melalui Penulisan Kreatif Sastra". Diskusi Sastra merupakan rangkaian acara Festival Sastra dan Bahasa Indonesia (Frasa), sebagai wujud perayaan bulan bahasa yang jatuh pada Oktober. Diskusi Sastra dilaksanakan pada 5 November 2017, di Gedung Roedhiro Unsoed dan diikuti oleh 138 peserta. Acara dimulai pukul 09.30-13.50 WIB, peserta Diskusi Sastra terlihat sangat antusias dengan hadirnya tiga narasumber yang luar biasa. Ketiga narasumber tersebut yaitu, Ahmad Tohari yang merupakan sastrawan besar asal Banyumas, Agus Wahyudi dan Budi Sardjono sastrawan asal Yogyakarta. Pak Agus Wahyudi merupakan sastrawan Yogyakarta yang karya-karyanya sarat dengan nilai-nilai tasawuf dan sejarah, karyanya diantaranya novelisasi Serat Chentini hingga jilid 12, Seribu Cahaya di langit Cinta, Diponegoro, Babad Wali Songo, dll. Sedangkan Pak Budi Sardjono merupakan sastrawan yang telah mengabdikan dirinya dalam dunia tulis kreatif sastra sejak tahun 1971, karya-karya fiksi sastranya diantaranya . Novelnya yang sudah terbit jadi buku antara lain Ojo Dumeh (Nusatama,1997), Selendang Kawung (Gita Nagari, 2002), Angin Kering Gunungkidul (Gita Nagari, 2005), Kabut dan Mimpi (Labuh, 2005), Sang Nyai (Diva Press, 2011) Kembang Turi (Diva Press, 2011), Api Merapi (Diva Press, 2012), Roro Jonggrang (Diva Press, 2013), Nyai Gowok (Diva Press, 2014), Sang Nyai 2 – Bumi yang Tersembunyi (Diva Press). Dalam proses terbit novel Sang Nyai 3 – Runtuhnya Sebuah Dinasti dan Ledhek Dari Blora, dan Novel “Sang Nyai” memperoleh Penghargaan Sastra 2012 dari Balai Bahasa D.I. Yogyakarta. Diskusi Sastra ini dibuka oleh Wakil Dekan III, Bapak Imam Suhardi, S.S.,M.Hum dengan memberikan apresiasi sedalam-dalamnya atas kegiatan Himasasi yang semakin bagus ini. Sebelum acara diskusi dimulai, acara ini dimeriahkan dengan tari Lengger yang dibawakan Saudari Alvi Nurjanah, Mahasiswi Sastra Indonesia 2014. pemaparan dan diskusi lebih menarik lagi ketika masuk sesi tanya jawab yang dipandu oleh Ibu Nila Mega Marahayu, M.A. sebagai moderator. hal ini dilihat dari antusias peserta yang bertanya, khususnya mengenai kiat-kiat dalam menulis kreatif sastra, baik sebagai prosais maupun penyair. Dalam pemaparan para pembicara disimpulkan bahwa para penulis atau sastrawan memiliki strategi dalam menulis, Pak Ahmad Tohari mengungkapkan bahwa salah satu hal yang harus dilakukan untuk menjadi penulis kreatif sastra adalah Setia pada proses, sesulit apa pun dalam menulis harus bisa diselesaikan karena menulis juga bukan proses mudah dan dalam waktu yang singkat. Sedangkan strategi untuk menjadi penulis bagi Pak Agus Wahyudi adalah mulailah menulis apa pun dari hal yang disukai dan sesuai kemampuan atau kapasitas diri sehingga penulis akan mampu menulis karya dengan bahasa yang apik dan enak dinikmati baik bagi dirinya maupun bagi pembaca. selain itu bagi pak Budi Sardjono, strategi menjadi penulis kreatif sastra adalah dengan tidak menunggu Ilham untuk menulis tetapi harus riset atau penelitian lapangan. Baginya, menjadi seorang penulis haruslah mencari ide dengan terjun langsung mengamati masyarakat dan turut serta menjadi bagian dari masyarakat sehingga segala permasalahan dalam masyarakat dan kehidupannya mampu menjadi ide menarik atau fakta yang dapat dituliskan ke dalam karya sastra. Dalam acara ini, panitia juga membagikan hadiah beberapa buku dan tas kecil, bagi peserta yang bisa menjawab pertanyaan yang telah disiapkan panitia. Adapun hadiah tersebut diantaranya, buku berjudul "Njajah Desa Milang Kori: proses kreatif novelis yogyakarta" yang merupakan buku terbaru karya penulis Yogyakarta di mana Pak Agus dan Pak Budi turut di dalamnya, buku teori semiotika bagi peserta sebagai penanya terbaik, dan beberapa novel karya Pak Agus Wahyudi yang diberikan langsung oleh penulis kepada peserta yang mendapatkan kupon hadiah. Acara Diskusi Sastra, juga ikut dimeriahkan oleh penampilan berupa musikasisasi puisi dari Kompasia sebagai acara penutup.