Artikel

Segudang Ilmu Jurnalistik dari Balai Bahasa Jawa Tengah

Selasa (29/8) Balai Bahasa Jawa Tengah bekerja sama dengan Program Studi Sastra Indonesia dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia menggelar pelatihan jurnalistik di gedung A, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman. Kegiatan tersebut mengambil tema “Penyuluhan Bahasa Indonesia Bagi Pengelola Media Massa Banyumas”. Lebih tepatnya, dalam pelatihan tersebut dihadiri oleh mahasiswa Prodi S1 Sastra Indonesia, Prodi S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia serta sejumlah wartawan yang turut hadir di ruangan itu. Dalam pelatihan tersebut menghadirkan beberapa pemateri andal diantaranya, Emma Maemunah, Didi Wahyu, Yudis Fajar Kurniawan dan Suryo Handono yang turut mengisi kegiatan pelatihan dengan memberikan materi terkait dengan kepenulisan jurnalistik.

 

Bertempat di gedung A, Pelatihan Jurnalistik dibuka dengan sambutan Dekan Fakultas Ilmu Budaya Drs. Bambang Lelono, M.Hum. sekaligus yang membuka kegiatan  tersebut, kemudian dilanjutkan oleh Emma Maemunah yang mengawali pelatihan dengan menyinggung tentang permasalahan bahasa yang salah kaprah digunakan oleh masyarakat di era sekarang sehingga semakin meluasnya penggunaan bahasa Inodonesia yang menyalahi aturan dan tidak sesuai dengan kaidah kebahasaan yang benar di berbagai media massa seperti televisi dan media sosial.

 

Kegiatan yang berangsur selama tiga hari ini (29-31)  pada intinya menerangkan bagaimana cara menjadi seorang penulis jurnalistik yang baik. Didi Wahyu, seorang wartawan senior yang telah berkecimpung dalam bidang jurnalistik ini juga menyampaikan hal penting ketika kegiatan pemaparan berlangsung. Ia mengatakan bahwa kunci menjadi seorang wartawan adalah yakin dengan tulisan yang ditulisnya, sehingga mampu menghadapi apapun.

 

Selain itu, suryo Handono juga memberrikan sedikit penjelasan mengenai penyuntingan naskah didalam duia jurnalistik. Pria asal Makassar ini menjelaskan berbagai hal yang harus diperhatikan oleh seorang jurnalis ketika melakukan penyuntingan pada sebuah naskah. “Tanggung jawab seorang penyunting sangatlah luar biasa, karena peran penyunting membantu penulis dalam menentukan tulisan layak atau tidaknya untuk diterbitkan”, jelas pria jebolan Universitas Indonesia ini.

 

Setelah pemaparan materi selesai disampaikan, kemudian dilanjutkan dengan sesi tanyajawab terkait dengan dunia jurnalistik, dimana mahasiswa/mahasiswi prodi PBSI dan Prodi Sastra Indonesia diberi kesempatan untuk bertanya kepada para pemateri andal ini terkait dengan pelatihan yang telah yang diberikan. Selanjutnya, pelatihan jurnalistik ditutup dengan sambutan panitia Balai Bahasa Jawa Tengah yang mengahiri kegiatan pada hari Kamis lalu.