
ROADMAP RISET GRUP SASTRA 2027–2031
- Gambaran Umum Roadmap
Roadmap Riset Grup Sastra Interdisipliner 2027–2031 dikembangkan dengan payung besar “Local Literature for Global Impact: Digital Humanities, Cultural Innovation, and Sustainable Literary Studies.” Roadmap ini menjadi kerangka pengembangan penelitian sastra yang mengintegrasikan kajian terhadap objek sastra, teori dan metodologi sastra, sastra kanon, sastra kontemporer, serta perkembangan sastra dalam ekosistem digital dan kecerdasan artifisial.
Roadmap diarahkan pada visi untuk menjadi pusat riset sastra interdisipliner yang unggul dalam menghasilkan pengetahuan, inovasi, dan model pengembangan sastra berbasis lokalitas, digitalisasi, serta jejaring global pada tahun 2031. Dengan visi tersebut, penelitian sastra tidak hanya diarahkan pada pengembangan keilmuan dan kajian tekstual, tetapi juga pada penguatan hubungan sastra dengan masyarakat, budaya, teknologi, industri kreatif, serta berbagai persoalan kontemporer.
Roadmap tidak dimaksudkan sebagai pembagian bidang penelitian secara kaku berdasarkan tahun. Seluruh objek, teori, pendekatan, dan klaster penelitian dapat dikembangkan sepanjang periode 2027–2031 sesuai dengan kepakaran peneliti, perkembangan ilmu pengetahuan, karakteristik objek kajian, dan kebutuhan masyarakat. Tema pada setiap tahun merupakan fokus strategis atau aksentuasi pengembangan penelitian, bukan batas yang menghalangi penelitian pada bidang lainnya.
Dengan prinsip tersebut, penelitian mengenai sastra digital, misalnya, tetap dapat dilakukan sejak 2027 meskipun inovasi sastra berbasis teknologi menjadi aksentuasi utama pada 2030. Demikian pula kajian terhadap sastra kanon, sastra populer, sastra perjalanan, gender dan seksualitas, sastra bandingan, maupun world literature dapat dikembangkan lintas tahun.
Struktur tersebut memberikan fleksibilitas bagi setiap peneliti untuk mengembangkan kepakarannya masing-masing sekaligus membuka ruang integrasi dan kolaborasi. Dengan demikian, roadmap berfungsi sebagai arah pengembangan bersama yang menghubungkan berbagai tradisi kajian sastra menuju penelitian yang semakin interdisipliner, adaptif terhadap perkembangan teknologi, berakar pada lokalitas, dan memiliki dampak yang lebih luas.
- Klaster Kepakaran Riset Grup
Seluruh kegiatan penelitian selama periode 2027–2031 bertumpu pada empat klaster penelitian yang berjalan secara paralel, yaitu Literary Theory & Methodology; Literary Studies: Canon; Literary Studies: Contemporary; serta Digital Literature & AI. Keempat klaster tersebut tidak berdiri secara terpisah, tetapi dapat saling beririsan dalam pengembangan objek, teori, metodologi, maupun orientasi penelitian.
Klaster 1: Literary Theory & Methodology
Klaster Literary Theory & Methodology menjadi landasan bagi pengembangan penelitian terhadap objek, teori, dan metodologi sastra. Dari sisi objek kajian, klaster ini mencakup puisi, prosa, drama, sastra lisan, sastra digital, sastra visual/audiovisual, serta reader/audience.
Keragaman objek tersebut memungkinkan penelitian sastra berkembang melampaui teks sastra cetak. Sastra dapat dikaji sebagai teks tertulis, tradisi lisan, praktik budaya, produk visual dan audiovisual, karya digital, maupun sebagai pengalaman yang melibatkan pembaca dan audiens.
Dari sisi teori dan metodologi, penelitian dapat memanfaatkan dan mengembangkan berbagai perspektif, antara lain sosiologi sastra, semiotika, hermeneutik, dan postcolonial studies. Teori dan metodologi tersebut dapat diterapkan secara fleksibel terhadap berbagai objek serta dikombinasikan dengan pendekatan dari disiplin lain sesuai dengan kebutuhan penelitian.
Klaster ini menjadi fondasi metodologis yang mendukung klaster-klaster lainnya. Dengan demikian, pengembangan teori sastra tidak berhenti pada penggunaan teori untuk membaca teks, tetapi juga diarahkan pada pengembangan perspektif, metodologi, dan kerangka analisis yang mampu merespons perubahan bentuk, medium, produksi, distribusi, dan resepsi sastra.
Klaster 2: Literary Studies: Canon
Klaster Literary Studies: Canon berfokus pada pengembangan penelitian terhadap karya-karya yang memiliki posisi penting dalam sejarah dan perkembangan sastra. Objek kajiannya mencakup sastra klasik Nusantara, sastra Indonesia modern awal, sastra Indonesia modern, serta sastra dunia klasik.
Penelitian dalam klaster ini diarahkan untuk membaca kembali karya kanon bukan semata-mata sebagai peninggalan sejarah sastra, tetapi sebagai sumber pengetahuan yang dapat terus ditafsirkan dalam konteks sosial, budaya, politik, dan intelektual yang berubah.
Kajian terhadap sastra kanon dapat memanfaatkan hermeneutik, semiotika, sosiologi sastra, dan postcolonial studies, serta berbagai teori lain yang relevan. Pendekatan tersebut memungkinkan karya kanon dibaca kembali dalam kaitannya dengan pembentukan identitas, representasi budaya, sejarah pemikiran, kolonialisme dan pascakolonialisme, perubahan sosial, serta relasinya dengan perkembangan sastra kontemporer.
Melalui klaster ini, penelitian diharapkan mampu memperkuat dokumentasi, pemetaan, reinterpretasi, dan pengembangan pengetahuan mengenai khazanah sastra lokal, nasional, dan dunia sekaligus menempatkannya dalam dialog dengan perkembangan teori dan persoalan kontemporer.
Klaster 3: Literary Studies: Contemporary
Klaster Literary Studies: Contemporary diarahkan pada fenomena sastra yang berkembang dalam masyarakat kontemporer. Objek penelitian mencakup sastra populer (SasPop), sastra digital, sastra perjalanan, sastra migran, sastra gender dan seksualitas, sastra bandingan, serta world literature.
Perluasan objek tersebut menunjukkan bahwa perkembangan sastra berlangsung dalam hubungan yang semakin kompleks dengan mobilitas manusia, globalisasi, media, teknologi, budaya populer, identitas, dan perubahan pola konsumsi budaya. Karena itu, penelitian sastra kontemporer membutuhkan perspektif yang terbuka terhadap dialog interdisipliner.
Kajian dapat dikembangkan melalui kajian budaya populer, kajian gender dan seksualitas, kajian poskolonial, kajian transnasional, serta kajian interkultural. Perspektif tersebut memungkinkan penelitian mengkaji bagaimana karya sastra memproduksi, merepresentasikan, mempertanyakan, atau menegosiasikan identitas dan berbagai persoalan sosial dalam masyarakat kontemporer.
Klaster ini juga membuka ruang yang luas bagi penelitian mengenai sirkulasi karya sastra lintas wilayah dan negara, hubungan antara sastra lokal dan global, representasi kelompok sosial, mobilitas dan migrasi, serta transformasi bentuk dan praktik sastra dalam masyarakat yang semakin terhubung.
Klaster 4: Digital Literature & AI
Klaster Digital Literature & AI merupakan ruang pengembangan penelitian yang mempertemukan sastra dengan perkembangan media digital, digital humanities, dan kecerdasan artifisial.
Dari sisi objek dan praktik, klaster ini mencakup digital literature, digital narrative, sastra visual/audiovisual, sastra interaktif, serta sastra berbasis AI. Penelitian dapat mengkaji transformasi bentuk sastra ketika berpindah dari medium konvensional menuju medium digital, termasuk perubahan dalam proses penciptaan, distribusi, pembacaan, dan interaksi antara karya dengan audiens.
Dari sisi teknologi dan metode, penelitian dapat mengembangkan pemanfaatan digital humanities, Natural Language Processing (NLP), text mining, AI generatif, dan data visualization. Teknologi tersebut dapat digunakan baik sebagai alat bantu penelitian maupun sebagai objek kajian kritis dalam studi sastra.
Pemanfaatan AI dalam penelitian sastra tidak hanya diarahkan pada efisiensi analisis, tetapi juga membuka persoalan baru mengenai kreativitas, kepengarangan, interpretasi, etika, hak kekayaan intelektual, relasi manusia-mesin, dan masa depan produksi sastra.
Keempat klaster tersebut berjalan paralel sepanjang periode roadmap. Seorang peneliti, misalnya, dapat menggabungkan kajian sastra kanon dengan digital humanities, sastra kontemporer dengan kajian gender, atau teori sastra dengan penelitian terhadap karya berbasis AI. Pola tersebut memungkinkan terbentuknya penelitian lintas klaster yang memperkuat karakter interdisipliner Riset Grup.
- Tahapan Pengembangan Penelitian 2027–2031
2027 — Fase I: Mapping & Documentation
Tahun 2027 merupakan tahap fondasi yang diarahkan pada pemetaan objek kajian sastra. Penelitian difokuskan pada identifikasi, eksplorasi, pemetaan, dan dokumentasi keragaman objek sastra yang dapat menjadi basis pengembangan penelitian pada tahap berikutnya.
Objek yang dipetakan mencakup puisi, prosa, drama, sastra lisan, sastra digital, reader/audience, serta sastra visual/audiovisual. Pemetaan tersebut penting untuk membangun gambaran mengenai perkembangan objek kajian sastra, baik yang bersumber dari khazanah lokal dan nasional maupun perkembangan medium sastra kontemporer.
Pada tahap ini, penelitian diharapkan membangun basis pengetahuan yang kuat melalui dokumentasi dan pemetaan objek. Luaran utama diarahkan pada atlas objek kajian sastra, artikel SINTA, dan buku.
Tahap 2027 juga menjadi fondasi bagi penelitian lintas tahun. Objek yang telah dipetakan dapat dikembangkan melalui pendekatan teoritis, komparatif, kontemporer, maupun digital pada fase-fase berikutnya.
2028 — Fase II: Pemetaan Teori dan Kajian Sastra (Canon)
Tahun 2028 diarahkan pada pemetaan teori dan kajian sastra kanon. Setelah penguatan basis objek pada tahap pertama, penelitian dikembangkan menuju pendalaman perangkat teoretis dan metodologis untuk membaca dan mereinterpretasikan karya-karya sastra.
Fokus penelitian meliputi sosiologi sastra, semiotika, hermeneutik, dan postcolonial studies. Berbagai pendekatan tersebut dapat digunakan untuk membaca karya sastra kanon dalam konteks sejarah, masyarakat, kebudayaan, identitas, kekuasaan, dan perkembangan pemikiran.
Kajian terhadap sastra kanon mencakup antara lain sastra klasik Nusantara, sastra Indonesia modern awal, sastra Indonesia modern, dan sastra dunia klasik. Pemetaan teori pada fase ini diharapkan menghasilkan basis teoretis yang dapat digunakan untuk mengembangkan penelitian sastra secara lebih sistematis.
Luaran utama fase ini diarahkan pada atlas teori sastra kanon, artikel SINTA, dan buku.
2029 — Fase III: Pemetaan Teori dan Kajian Sastra Kontemporer
Tahun 2029 merupakan tahap penguatan penelitian terhadap sastra kontemporer. Fokus ini merespons perubahan masyarakat, budaya, mobilitas manusia, globalisasi, perkembangan media, serta munculnya bentuk-bentuk baru produksi dan konsumsi sastra.
Objek penelitian meliputi SasPop atau sastra populer, sastra perjalanan, gender dan sexuality, sastra bandingan, world literature, serta sastra migran. Dalam klaster paralel, cakupan sastra kontemporer juga membuka ruang bagi sastra digital dan berbagai bentuk sastra yang berkembang dalam konteks sosial kontemporer.
Penelitian dapat menggunakan kajian budaya populer, kajian gender dan seksualitas, kajian poskolonial, kajian transnasional, maupun kajian interkultural. Pendekatan tersebut memungkinkan sastra ditempatkan dalam relasinya dengan dinamika masyarakat yang semakin kompleks dan terhubung secara global.
Luaran utama diarahkan pada atlas teori sastra kontemporer, artikel SINTA, dan buku.
2030 — Fase IV: Inovasi Sastra Berbasis Teknologi
Tahun 2030 menjadi tahap penguatan inovasi sastra berbasis teknologi. Fokus penelitian diarahkan pada hubungan antara sastra, media digital, digital humanities, dan perkembangan kecerdasan artifisial.
Penelitian dapat mencakup AI dalam sastra, digital humanities, sastra visual/audiovisual, serta digital literature/digital narrative. Pada tahap ini, teknologi tidak hanya digunakan sebagai sarana penelitian, tetapi juga diposisikan sebagai bagian dari transformasi objek, metode, produksi, distribusi, dan resepsi sastra.
Pengembangan penelitian dapat memanfaatkan NLP, text mining, AI generatif, dan visualisasi data. Pada saat yang sama, penelitian tetap perlu memberikan perhatian pada aspek kritis dan humanistik, termasuk persoalan kreativitas, kepengarangan, etika penggunaan AI, representasi, serta relasi antara teknologi dan manusia.
Luaran utama pada tahap ini diarahkan pada sastra digital, buku ajar, modul, HKI, dan publikasi Scopus.
2031 — Fase V: Community Impact
Tahun 2031 merupakan tahap penguatan community impact, yaitu pengembangan dan pemanfaatan hasil penelitian sastra agar memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.
Fokus diarahkan pada model literasi sastra, komunitas sastra, dan industri kreatif. Pengetahuan yang dihasilkan melalui penelitian pada fase-fase sebelumnya diharapkan dapat diterjemahkan menjadi model, praktik, dan kegiatan yang mendukung penguatan literasi, pemberdayaan komunitas, serta pengembangan ekosistem kreatif berbasis sastra.
Pada tahap ini, penelitian sastra tidak berhenti pada produksi pengetahuan akademik. Hasil penelitian diarahkan agar dapat menjadi basis kegiatan pengabdian, pengembangan model literasi, penyusunan buku referensi, dan penguatan hubungan antara perguruan tinggi dengan komunitas.
Luaran utama diarahkan pada model literasi, buku referensi, dan pengabdian berbasis riset.
- Prinsip Penelitian
Seluruh tahapan dan klaster penelitian dalam Roadmap Penelitian Sastra Interdisipliner 2027–2031 dilaksanakan berdasarkan lima prinsip utama.
Pertama, berbasis kearifan lokal (Local Wisdom). Penelitian menempatkan sastra, tradisi, pengetahuan lokal, memori budaya, dan berbagai ekspresi masyarakat sebagai sumber pengetahuan yang memiliki nilai akademik sekaligus sosial. Orientasi lokal tidak dimaksudkan untuk membatasi penelitian pada wilayah tertentu, melainkan menjadikan lokalitas sebagai basis untuk membangun dialog dengan konteks nasional dan global.
Kedua, partisipatif dan inklusif (Community Based). Penelitian dikembangkan dengan mempertimbangkan keterlibatan masyarakat dan komunitas serta keberagaman pengalaman sosial. Prinsip ini juga memberikan ruang terhadap isu gender, seksualitas, migrasi, kelompok marginal, pembaca/audiens, serta berbagai bentuk keberagaman dalam produksi dan resepsi sastra.
Ketiga, interdisipliner dan kolaboratif (Triple Helix). Penelitian sastra didorong untuk berinteraksi dengan berbagai disiplin ilmu dan membangun kerja sama dengan perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat, komunitas, industri kreatif, serta mitra nasional dan internasional.
Keempat, berkelanjutan (Sustainability). Penelitian diarahkan untuk membangun kesinambungan pengetahuan, data, dokumentasi, jejaring, dan pengembangan objek kajian. Hasil satu penelitian diharapkan dapat menjadi fondasi bagi penelitian berikutnya sehingga terbentuk ekosistem penelitian sastra yang berkelanjutan.
Kelima, berorientasi dampak (Impact Oriented). Penelitian tidak berhenti pada publikasi akademik, tetapi diarahkan pada penciptaan pengetahuan, inovasi, model literasi, penguatan komunitas, bahan pembelajaran, serta berbagai bentuk pemanfaatan hasil penelitian yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
- Keterkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs)
Roadmap Penelitian Sastra Interdisipliner juga diarahkan untuk memberikan kontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Sesuai dengan roadmap, fase 2027–2030 terutama berkaitan dengan SDG 5 (Gender Equality), SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure), dan SDG 11 (Sustainable Cities and Communities). Pada 2031, orientasi dampak masyarakat diperluas pada SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), SDG 10 (Reduced Inequalities), dan SDG 11 (Sustainable Cities and Communities).
Keterkaitan tersebut diwujudkan melalui kajian gender dan seksualitas dalam sastra, pengembangan inovasi dan teknologi dalam penelitian sastra, pelestarian pengetahuan dan ekspresi budaya, penguatan komunitas, pengembangan literasi, serta keterhubungan sastra dengan industri kreatif.
Dengan demikian, SDGs tidak diposisikan sebagai elemen tambahan dalam roadmap, tetapi sebagai salah satu orientasi yang menghubungkan pengembangan ilmu sastra dengan persoalan sosial, inovasi, inklusivitas, budaya, dan pembangunan berkelanjutan.
- Luaran Strategis dan Tujuan Akhir 2031
Seluruh rangkaian penelitian selama 2027–2031 diarahkan pada pengembangan luaran akademik dan sosial secara berkelanjutan. Luaran tersebut mencakup atlas objek kajian sastra, atlas teori sastra kanon dan kontemporer, artikel jurnal nasional dan internasional, buku, buku ajar, modul, HKI, karya atau korpus sastra digital, model literasi, buku referensi, serta pengabdian kepada masyarakat berbasis riset.
Pengembangan luaran dilakukan secara bertahap. Pemetaan dan dokumentasi pada fase awal menjadi fondasi bagi penguatan teori dan kajian; penguatan teori dan kajian menjadi dasar bagi pengembangan penelitian sastra kontemporer; perkembangan tersebut kemudian diperkuat melalui inovasi berbasis teknologi dan pada akhirnya diarahkan pada dampak yang lebih luas bagi masyarakat.
Dengan demikian, roadmap membentuk alur pengembangan yang berkesinambungan: pemetaan dan dokumentasi objek kajian pada 2027; pemetaan teori dan kajian sastra kanon pada 2028; pemetaan teori dan kajian sastra kontemporer pada 2029; inovasi sastra berbasis teknologi pada 2030; serta penguatan dampak terhadap komunitas pada 2031.
Pada akhir periode roadmap, penelitian diarahkan pada empat tujuan utama, yaitu terbentuknya model literasi sastra yang berkelanjutan; peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui literasi dan industri kreatif; penguatan identitas dan daya saing daerah pada tingkat global; serta kontribusi nyata terhadap pencapaian SDGs.
Secara keseluruhan, Roadmap Penelitian Sastra Interdisipliner 2027–2031 menempatkan seluruh klaster kepakaran sebagai fondasi penelitian yang berjalan secara paralel dan lintas tahun, sementara tema tahunan berfungsi sebagai arah penguatan strategis. Struktur tersebut memberikan ruang bagi peneliti untuk mempertahankan dan mengembangkan kepakaran masing-masing sekaligus mendorong pertemuan antarklaster menuju penelitian sastra yang berbasis lokalitas, interdisipliner, inklusif, adaptif terhadap perkembangan teknologi, berjejaring global, berkelanjutan, dan berorientasi pada dampak.
