RG Linguistik

ROADMAP PENELITIAN RISET GRUP LINGUISTIK DAN PENERJEMAHAN

2027–2031

 

1. Arah Umum Roadmap

Roadmap Penelitian Riset Grup Linguistik dan Penerjemahan 2027–2031 dikembangkan dengan payung besar “Bahasa, Masyarakat, Identitas, Komunikasi Kontemporer, dan Penerjemahan”. Roadmap ini menjadi kerangka pengembangan penelitian yang menghubungkan berbagai kepakaran dosen dalam bidang linguistik dan penerjemahan secara berkelanjutan, interdisipliner, kolaboratif, dan berorientasi pada dampak.

Roadmap tidak dimaksudkan untuk membatasi jenis penelitian berdasarkan tahun tertentu. Seluruh kepakaran yang dimiliki Riset Grup dapat dikembangkan sepanjang periode 2027–2031. Adapun tema pada setiap tahun menunjukkan fokus strategis atau aksentuasi pengembangan, sehingga penelitian pada satu bidang tetap dapat dilakukan pada tahun-tahun lainnya sesuai dengan permasalahan, objek, pendekatan, dan kebutuhan masyarakat.

Dengan prinsip tersebut, roadmap berfungsi sebagai arah pengembangan bersama, bukan sebagai pembagian bidang penelitian yang bersifat eksklusif. Pola ini memungkinkan setiap dosen mengembangkan kepakaran masing-masing sekaligus membuka ruang untuk integrasi dan kolaborasi lintas bidang.

2. Pilar Kepakaran Riset Grup

Seluruh kegiatan penelitian selama 2027–2031 bertumpu pada lima pilar kepakaran yang saling berhubungan.

Pilar pertama: Linguistik Mikro dan Struktur Bahasa yang mencakup fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Pilar ini menjadi fondasi strutural keilmuan linguistik dan penting bagi berbagai penelitian linguistik lainnya. Kajian linguistik mikro dapat diintegrasikan dengan penelitian tentang variasi bahasa, masyarakat, identitas, kognisi, wacana, korpus, teknologi bahasa, maupun penerjemahan.

Pilar kedua: Linguistik, Masyarakat, dan Identitas, mencakup sosiolinguistik, dialektologi, etnolinguistik, lanskap linguistik, dan ekolinguistik. Pilar ini berfokus pada hubungan bahasa dengan masyarakat, budaya, identitas, ruang, lingkungan, serta dinamika sosial.

Pilar ketiga: Bahasa, Kognisi, dan Interaksi, mencakup psikolinguistik, pragmatik, analisis wacana, dan semiotik. Pilar ini mengkaji bahasa dalam kaitannya dengan proses kognitif, interaksi, makna, wacana, serta sistem tanda yang digunakan dalam komunikasi.

Pilar keempat: Bahasa, Data, dan Teknologi, mencakup linguistik korpus, bahasa dan teknologi, analisis media/digital, serta teknologi bahasa dan kecerdasan artifisial. Pilar ini memperkuat pemanfaatan data, teknologi digital, dan pendekatan berbasis komputasi dalam penelitian bahasa.

Pilar kelima: Linguistik Terapan dan Bidang Khusus, mencakup leksikologi, linguistik kuliner, dan linguistik forensik. Pilar ini mengarahkan kepakaran linguistik untuk menjawab persoalan-persoalan spesifik dalam kehidupan masyarakat dan berbagai bidang profesional.

Pilar keenam: Penerjemahan, mencakup kajian penerjemahan, penerjemahan kontemporer, penerjemahan lisan, penerjemahan audiovisual, serta penerjemahan berbasis teknologi. Penerjemahan ditempatkan sebagai pilar inti yang setara dengan bidang linguistik. Kajian penerjemahan dapat beririsan dengan seluruh pilar lainnya. Linguistik mikro dapat mendukung kajian equivalence pada tingkat fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Pragmatik dan analisis wacana dapat mendukung kajian konteks dan maksud dalam penerjemahan. Linguistik korpus dan teknologi bahasa dapat mendukung penerjemahan berbasis data dan AI. Sementara komunikasi antarbudaya dan kajian identitas dapat memperkaya penelitian penerjemahan dalam konteks sosial dan budaya.

Keenam pilar tersebut bersifat lintas tahun dan dapat saling beririsan. Dengan demikian, penelitian mengenai pragmatik, misalnya, dapat dilakukan dalam konteks media digital, penerjemahan, komunikasi antarbudaya, atau linguistik forensik tanpa harus menunggu tahun tertentu.

3. Dimensi Transversal

Selain enam pilar kepakaran, roadmap memiliki sejumlah dimensi transversal yang hadir sepanjang periode 2027–2031.

Dimensi tersebut meliputi (1) media dan teknologi kontemporer; (2) komunikasi antarbudaya dan multibahasa; (3) pendokumentasian dan pelestarian bahasa daerah; (4) keberlanjutan lingkungan dan budaya; (5) inklusi sosial, kesetaraan gender, dan difabilitas; serta (6) kolaborasi lintas disiplin, sektor, dan negara.

Penempatan media dan teknologi sebagai dimensi transversal memiliki arti penting. Media diposisikan sebagai konteks dan sarana yang dapat digunakan sejak 2027 dalam berbagai penelitian linguistik maupun penerjemahan. Dengan demikian, penelitian sosiolinguistik, pragmatik, analisis wacana, semiotik, linguistik korpus, penerjemahan, dan bidang lainnya dapat menggunakan media digital sebagai objek maupun konteks penelitian pada setiap tahap roadmap.

Tahun 2029 kemudian menjadi momentum penguatan fokus pada bahasa dalam ruang, media, dan teknologi kontemporer, bukan sebagai titik awal penelitian mengenai media.

4. Tahapan Pengembangan Penelitian 2027–2031

2027 — Eksplorasi dan Pemetaan Fenomena Kebahasaan

Tahun 2027 merupakan tahap fondasi, eksplorasi, dan pemetaan. Fokus diarahkan pada identifikasi potensi riset, pemetaan fenomena kebahasaan, penguatan basis data, serta eksplorasi berbagai persoalan linguistik dan penerjemahan.

Pada tahap ini, seluruh kepakaran Riset Grup dapat dikembangkan untuk menghasilkan basis pengetahuan, data, dokumentasi, dan peta potensi penelitian. Eksplorasi dapat mencakup berbagai konteks, baik bahasa dan masyarakat, identitas, wacana, budaya, media, teknologi, maupun penerjemahan.

Penekanan utama pada 2027 adalah membangun fondasi penelitian yang kuat, termasuk pengembangan korpus, dokumentasi bahasa, pemetaan fenomena, dan peta potensi penelitian yang dapat menjadi fondasi pengembangan pada tahun-tahun berikutnya.

SDGs yang diprioritaskan adalah SDG 4 (Quality Education), SDG 11 (Sustainable Cities and Communities), dan SDG 15 (Life on Land), terutama melalui kontribusi penelitian terhadap pendidikan, keberlanjutan komunitas, serta dokumentasi dan pelestarian bahasa dan pengetahuan lokal.

2028 — Bahasa, Identitas, dan Keberagaman Masyarakat

Pada 2028, penelitian diarahkan untuk pendalaman hubungan antara bahasa, identitas, budaya, gender, generasi, dan dinamika masyarakat. Fokus ini memungkinkan berbagai kepakaran linguistik dan penerjemahan digunakan untuk memahami bagaimana bahasa membentuk, merepresentasikan, dan dinegosiasikan dalam masyarakat yang semakin beragam.

Kajian dapat mencakup identitas budaya dan etnis, bahasa dan gender, keberagaman bahasa dalam pendidikan dan masyarakat, serta representasi identitas dalam wacana dan media. Pendekatan sosiolinguistik, etnolinguistik, pragmatik, analisis wacana, semiotik, penerjemahan, maupun komunikasi antarbudaya dapat dikembangkan secara terpadu.

SDGs yang menjadi prioritas adalah SDG 4 (Quality Education), SDG 5 (Gender Equality), dan SDG 10 (Reduced Inequalities). Penelitian diarahkan untuk mendukung pendidikan yang inklusif, kesetaraan, penghargaan terhadap keberagaman, dan pengurangan kesenjangan sosial maupun linguistik.

2029 — Bahasa dalam Ruang, Media, dan Teknologi Kontemporer

Tahun 2029 menjadi tahap penguatan penelitian pada ruang publik, media digital, dan teknologi kontemporer. Fokus ini merespons perubahan cara masyarakat berkomunikasi, membangun identitas, memproduksi wacana, dan mengakses informasi dalam ekosistem digital.

Penelitian dapat mencakup bahasa dan media sosial, media digital, lanskap linguistik fisik dan digital, komunikasi multimodal, wacana media, serta pemanfaatan AI dan teknologi bahasa. Dalam bidang penerjemahan, fokus dapat diarahkan pada penerjemahan audiovisual, subtitle, dubbing, transkreasi, serta pemanfaatan teknologi dalam proses dan produk penerjemahan.

Dengan demikian, 2029 bukan merupakan awal penggunaan media dalam penelitian, melainkan tahap penguatan dan pendalaman tema media serta teknologi yang sejak awal telah menjadi dimensi transversal roadmap.

SDGs yang diprioritaskan adalah SDG 4 (Quality Education), SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure), dan SDG 12 (Responsible Consumption and Production), khususnya melalui pengembangan inovasi, teknologi bahasa, literasi digital, dan pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab.

2030 — Integrasi dan Penguatan Kajian Linguistik dan Penerjemahan

Tahun 2030 diarahkan pada integrasi hasil penelitian dari berbagai pilar kepakaran. Pada tahap ini, penelitian tidak lagi hanya berorientasi pada eksplorasi bidang secara individual, tetapi mulai menghasilkan model, sintesis, kerangka analisis, rekomendasi, dan luaran yang menghubungkan berbagai bidang.

Integrasi linguistik dan penerjemahan menjadi salah satu orientasi utama. Pendekatan lintas bidang dapat digunakan untuk menghasilkan model integratif, meta-analisis dan sintesis hasil penelitian, pengembangan kerangka analisis, serta rekomendasi kebijakan berbasis bukti.

Tahap ini juga menjadi ruang untuk menghubungkan hasil penelitian dengan kebutuhan pendidikan, kebijakan, masyarakat, industri, dan pemangku kepentingan lainnya.

SDGs yang diprioritaskan adalah SDG 4 (Quality Education), SDG 11 (Sustainable Cities and Communities), dan SDG 13 (Climate Action). Penelitian diharapkan tidak hanya menghasilkan kontribusi akademik, tetapi juga memberikan dasar pengetahuan bagi pengembangan kebijakan dan pembangunan yang berkelanjutan.

2031 — Kolaborasi, Hilirisasi, dan Internasionalisasi

Tahun 2031 merupakan tahap perluasan jejaring, hilirisasi, dan internasionalisasi. Hasil penelitian yang telah dikembangkan pada tahap-tahap sebelumnya diarahkan untuk menghasilkan dampak yang lebih luas melalui kolaborasi nasional dan internasional, publikasi bersama, diseminasi, inovasi, serta pemanfaatan hasil penelitian.

Fokus diarahkan pada penguatan joint research, joint publication, konferensi internasional, hibah kompetitif, jejaring riset berkelanjutan, serta hilirisasi hasil penelitian untuk mendukung kebutuhan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan.

SDGs yang diprioritaskan adalah SDG 4 (Quality Education), SDG 17 (Partnerships for the Goals), dan SDG 16 (Peace, Justice and Strong Institutions). Penelitian diharapkan mampu memperkuat kemitraan, meningkatkan visibilitas dan kontribusi akademik, serta menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat, kebijakan, dan pembangunan berkelanjutan.

5. Prinsip Penelitian

Seluruh tahapan roadmap dilaksanakan berdasarkan lima prinsip utama.

Pertama, berbasis kearifan lokal, yaitu penelitian menghargai pengetahuan lokal, bahasa daerah, dan nilai budaya sebagai sumber pengetahuan yang penting untuk dikembangkan dan dilestarikan.

Kedua, partisipatif dan inklusif, yaitu penelitian melibatkan masyarakat, komunitas, kelompok rentan, serta mempertimbangkan dimensi gender, disabilitas, dan keberagaman secara aktif.

Ketiga, interdisipliner dan kolaboratif, yaitu penelitian mendorong pertemuan berbagai disiplin ilmu serta kerja sama lintas institusi, sektor, dan negara.

Keempat, berkelanjutan, yaitu penelitian mempertimbangkan dimensi lingkungan, sosial, ekonomi, dan budaya dalam perspektif jangka panjang.

Kelima, berorientasi dampak, yaitu penelitian tidak berhenti pada publikasi akademik, tetapi diarahkan untuk menghasilkan pengetahuan dan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, kebijakan, pendidikan, serta pembangunan berkelanjutan.

6. Luaran Strategis

Seluruh rangkaian penelitian 2027–2031 diarahkan pada pencapaian luaran strategis berupa publikasi jurnal nasional dan internasional, buku ajar, monograf dan buku referensi, penguatan kapasitas sumber daya manusia, kemitraan riset nasional dan internasional, pendanaan kompetitif, serta kontribusi nyata terhadap pencapaian SDGs.

Dengan demikian, roadmap ini membentuk suatu alur pengembangan yang berkesinambungan: eksplorasi dan pemetaan pada 2027, pendalaman bahasa dan identitas pada 2028, penguatan media dan teknologi pada 2029, integrasi linguistik dan penerjemahan pada 2030, serta kolaborasi, hilirisasi, dan internasionalisasi pada 2031.

Secara keseluruhan, roadmap tersebut menempatkan seluruh kepakaran linguistik dan penerjemahan sebagai fondasi yang berjalan lintas tahun, sementara fokus tahunan berfungsi sebagai arah penguatan. Struktur ini memberikan fleksibilitas bagi dosen untuk mengembangkan kepakarannya masing-masing sekaligus mendorong konvergensi penelitian menuju tema besar bahasa, masyarakat, identitas, komunikasi kontemporer, dan penerjemahan yang berdampak bagi pembangunan berkelanjutan.