Breadcrumb Abstract Shape
Breadcrumb Abstract Shape
Breadcrumb Abstract Shape

Mahasiswa D3 Bahasa Mandarin Angkatan 2025 UNSOED Eksplorasi Potensi Wisata dan Budaya Yogyakarta melalui Field Trip

Yogyakarta, 24 Oktober 2026 – Mahasiswa Program Studi D3 Bahasa Mandarin, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) Angkatan 2025 melaksanakan kegiatan Field Trip to Yogyakarta sebagai bagian dari pembelajaran mata kuliah Pengantar Pariwisata. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk pembelajaran luar kelas yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengenal dunia pariwisata secara langsung sekaligus memperluas wawasan mengenai potensi wisata dan budaya lokal.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa mengunjungi sejumlah destinasi wisata unggulan di Yogyakarta, yaitu kawasan Lava Tour Kaliurang, Museum Sonobudoyo, dan kawasan Malioboro. Ketiga destinasi tersebut dipilih sebagai ruang pembelajaran untuk mengenal beragam aspek kepariwisataan, mulai dari wisata alam dan sejarah, pelestarian warisan budaya, hingga wisata perkotaan dan ekonomi kreatif.

Kunjungan pertama dilakukan ke kawasan Lava Tour Kaliurang, yang menawarkan pengalaman wisata edukatif dengan memanfaatkan kawasan terdampak erupsi Gunung Merapi. Di lokasi ini, mahasiswa mengunjungi Museum Sisa Hartaku dan melihat sejumlah peninggalan erupsi, termasuk Batu Alien (Alien Stone). Melalui kunjungan tersebut, mahasiswa dapat mengenal potensi wisata berbasis alam, sejarah kebencanaan, serta bagaimana peristiwa alam dapat membentuk daya tarik wisata sekaligus menjadi sarana edukasi bagi masyarakat dan pengunjung.

Perjalanan dilanjutkan ke Museum Sonobudoyo sebagai salah satu destinasi wisata budaya dan sejarah di Yogyakarta. Museum ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengenal lebih dekat kekayaan warisan budaya Indonesia melalui koleksi benda bersejarah, artefak, dan berbagai representasi kebudayaan. Kunjungan ini sekaligus memperkenalkan pentingnya museum sebagai institusi yang berperan dalam pelestarian, edukasi, dan pengembangan wisata budaya.

Selanjutnya, mahasiswa mengunjungi kawasan Malioboro yang dikenal sebagai salah satu ikon pariwisata Yogyakarta. Kawasan ini menjadi ruang pengamatan terhadap dinamika pariwisata perkotaan yang memadukan aktivitas perdagangan, kuliner, seni, budaya, serta interaksi antara masyarakat lokal dan wisatawan. Melalui pengalaman tersebut, mahasiswa dapat melihat secara langsung bagaimana sebuah kawasan perkotaan dikembangkan menjadi destinasi wisata yang memiliki daya tarik tersendiri.

Rangkaian kunjungan ini memberikan pengalaman pembelajaran yang lebih kontekstual bagi mahasiswa. Mereka tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai destinasi wisata, tetapi juga dapat mengamati keterkaitan antara potensi alam, sejarah, budaya, masyarakat, dan aktivitas ekonomi dalam mendukung sektor pariwisata.

Bagi mahasiswa D3 Bahasa Mandarin, pemahaman mengenai destinasi wisata dan kekayaan budaya lokal juga memiliki relevansi dengan pengembangan kompetensi bahasa dan komunikasi lintas budaya. Pengetahuan tersebut dapat menjadi bekal dalam memperkenalkan potensi pariwisata Indonesia kepada wisatawan mancanegara, termasuk wisatawan berbahasa Mandarin.

Melalui kegiatan Field Trip to Yogyakarta, Program Studi D3 Bahasa Mandarin FIB UNSOED terus mendorong pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori di ruang kelas, tetapi juga memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkaya wawasan, meningkatkan pemahaman terhadap potensi pariwisata dan budaya Indonesia, serta membangun pengalaman belajar yang bermakna sebagai bekal pengembangan kompetensi mahasiswa di masa mendatang.

(adm/mon)